Sabtu, 19 Februari 2011

Teriakkan Lirih

Jawab dia dalam gelapmu
Jangan biarkan asamu terpuruk
Dia adalah orator ulung
Tak ada satupun yang bisa kalahkandia

Tapi sebenarnya dia adalah pecundang besar
Hanya bisa berteriak untuk sebuah kebanggan
Bukan untuk rasa yang sebenarnya
Hanya untuk ambisi usang

Orang orang yang membanggakanya di depan
Meludahinya dari belakang
Dia terikan laranya hanya di dalam hati
Tak ada yang tau apa yang ia rasa
Tak ada yang tau apa yang ia rasa

Jumat, 18 Februari 2011

Opera Malam


Langit hitam tak berbintang
Disana terlihat dia tak berteman
Sendiri saja
Angkuhnya angin malam menjadi kawan
Masih saja pekatnya sesakkan aku
Dia disana apakah masih bisa terlihat
Aku ingin pulang jika dia pergi
Masih belum mengerti
Bulanku pergi

Mahkluk Pendiam

Air mata kurasa menghangat
Tertawa dalam kesedihan membingungkan aku
Menahan sakit yang tak berujung
Seperti menyatu dalam darahku

Kutahan Sakit ini di batas amarahku yang siap meledak
Sekali lagi kusimpan kata-kata itu
Agar aku tak salah
Sedangkan darah tetap mendidih

Suatu saat akan ku biarkan ini
Tak akan menahan lagi
Biar sekarang begini
Aku tau itu tak akan lama lagi

Rabu, 16 Februari 2011

Namanya Kak Tami

Maaf ni pembaca, saya sedikit curhat dengan kejadian yang belum lama ini menimpa saya..
Kehilangan seseorang itu memang tidak mengenakkan. Walaupun seseorang itu baru kita kenal, tetapi coba kita pikirkan. Orang yang biasanya kita lihat, kita sentuh, kita ajak bicara, dan kita dengar suaranya kini telah tiada. Ini sebenarnya sudah tiga minggu ini terjadi. Hanya dalam tempo 7-8 bulan saya mengenal dia. tetapi rasanya seperti kehilangan seseorang yang sangat dekat. Dia memang berbeda dari wanita-wanita lainya di zaman sekarang. Begini, awalnya saya bertemu dengannya dalam sebuah acara. Saya, dia dan beserta teman-teman yang lain menjadi panitianya. Pertama kali sih sama sebenarnya seperti teman-teman yang baru aku kenal saat itu. Kakak itu selalu berjilbab. Orangnya ramah banget.  Sampai suatu saat dia mau pulang. gak ada yang mengantar. terus ada teman saya yang bertannya dimana kawasan rumah saya. Kebetulan kawasannya berdekatan. Saat itu lah saya membonceng dia. Dia adalah perempuan pertama yang saya boncengi dengan motor itu. Malam itu terang bulan. Di perjalanan kami mengobrol hangat tantang perkuliahan kami. Memang di lebih tua dariku satu tahun. dan o iya dia memanggil saya dengan kata "afgan". itu mungkin karna pas waktu rapat banyak di antara kami yang belum saling menghapal nama, jadi ada seorang teman yang lebih tua dari saya memanggil saya dengan sebutan "afgan". Mungkin karna saya berkacamata dan berambut tebal.. hahaha
Setelah sampai di rumahnya dia pun mengucapkan "terimakasih afgan" denga nada bicaranya yang khas.
Kata-katanya sangat bermakna dengan tutur kata yang lemah lebut membuat siapa saja pasti nyaman didekatnya termasuk saya. Lalu beberapa kali rapat kepanitiaan berlalu. Dan sebanyak itu pula saya selalu mengantarnya pulang. Sepanjang jalan kami berbincang-bincang. Dan saya selalu meminta nasehat kepadanya. Dia sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri. Sungguh luar biasa motivasinya. Bisa membuat siapa saja berubah pemikiranya tentang perjuangan kta di dunia ini. Sayang sekali pada umur yang hampir 20 tahun di telah di panggilsang Khalik menghadapnya. Saya tau dia telah bahagia disana. Dia adalah wanita yang luar biasa. dan surga adalah tempat yang tepat untuknya.
Kak Tami...

Kamis, 03 Februari 2011

Hujan menjawabnya

Hujan menjawab laraku setelah cahaya itu pergi jauh...
Air mataku tercampur oleh rintihan hujan..
Senyumnya takkan ku lihat lagi..
Suara itu takkan aku dengar lagi..
Tuhan..

Begitu cepat kau panggil Dia..
Cahaya itu akan menjadi cahaya langit..
Selalu ada menjadi bintang siang dan malam..
Bila tiba waktuku akan kucumbui engkau dalam mimpiku..
Akan kuajak engkau berjalan-jalan di anganku..
Semoga dapat bertemu..
Do'aku selalu menyertaimu...

Lamunan senja


Senja kurasa sedang menertawaiku yang sedang jatuh
Dalam lamunan ini harapanku terbuang jauh
Mimpi semakin menjadi mimpi
Inginku ulangi kebanggaan itu dulu
Yang kini pergi menunggalkan aku
Sudah kusadari kini hidup adalah tekateki misteri
Yang membuat kita tertawa dan terkadang menangis
Senja berganti malam dan matahari telah pergi
Dalam lamunan senja aku merenung
Dalam lamunan senja aku melamun
Dalam lamunan senja aku tertawa
Dalam lamunan senja aku menangis
Dan dalam lamunan senja aku tertidur